Jejak Drogba cs Terkait Lacazette yang Ada di Ambang Kepindahan

Jejak Drogba cs Terkait Lacazette yang Ada di Ambang Kepindahan

Alexandre Lacazette di ambang pindah dari Ligue 1 Prancis ke Premier League Inggris. Penyerang Lyon itu akan mengikuti jejak sejumlah pesepakbola lain, yang nasibnya beda-beda.

Nama Lacazette sejatinya sudah santer dikaitkan dengan Arsenal sedari tahun lalu. Tapi baru musim panas ini ia tampak benar-benar terlihat sudah berada di ambang kepindahan.

Penyerang asal Prancis berusia 26 tahun tersebut digadang-gadang bisa menuntaskan transfer dengan The Gunners dalam hitungan hari, membuatnya mulai main di Premier League pada musim 2017-18.

Lacazette sendiri meninggalkan Lyon dengan catatan impresif setelah sepanjang musim lalu memiliki tingkat penyelesaian peluang (conversion rate) sebesar 38,9 persen — paling tinggi di antara lima liga top Eropa. Total 28 golnya di Ligue 1 pun setara dengan gabungan gol kuartet Arsenal yakni Olivier Giroud, Theo Walcott, Danny Welbeck, dan Lucas Perez.

Akan tetapi, tak ada jaminan pasti Lacazette akan langsung sukses dalam mengarungi musim pertamanya (jika jadi pindah) di Premier League nanti.

Dalam rangkuman Sky Sports yang berisikan kepindahan sejumlah pemain dari Ligue 1 ke Premier League ini, ada penyerang yang langsung sukses pada musim pertamanya di Inggris tapi di sisi lain ada pula yang tampil tak sesuai ekspektasi.

1. Michy Batshuayi
Batshuayi memperlihatkan performa kinclong buat Marseille sepanjang musim 2015-16. Dengan 23 gol dari 50 pertandingan, rerata golnya nyaris satu gol per dua pertandingan.

Chelsea (2016-17): 5 gol dari 20 laga Premier League (satu goal setiap 0,25 laga); 11 gol dari 29 laga di seluruh ajang (satu gol setiap 0,37 laga).

Batshuayi menjadi rekrutan pertama Antonio Conte sebagai manajer Chelsea pada Juli 2016, tapi kesulitan dapat tempat di tim reguler dengan Diego Costa acapkali jadi opsi utama. Tapi pemain 23 tahun itu tetap mampu mencetak sejumlah gol untuk membantu Chelsea menjuarai Premier League musim lalu.

2. Divock Origi
Origi bergabung dengan Liverpool setelah Piala Dunia 2014, kendatipun saat itu langsung dipinjamkan balik ke Lille sepanjang musim 2014-15. Di musim itu penyerang Belgia berusia 22 tahun itu cuma mencetak sembilan gol buat Lille.

Liverpool (2015-16): 5 gol dari 16 laga Premier League (satu gol setiap 0,31 laga); 10 gol dari 34 laga di seluruh ajang (satu gol setiap 0,29 laga).

Tingkat konversi gol Origi pada musim pertamanya di Anfield cukup mirip dengan musim terakhirnya bersama Lille. Ia memang mencetak beberapa gol penentu, seperti ketika menjebol gawang Borussia Dortmund di perempatfinal Liga Europa 2015-16, tapi jumlah golnya tidak menonjol.

3. Anthony Martial
Sebelum kepindahannya ke Manchester United pada September 2015, Martial sebenarnya tak punya konversi gol menonjol pada musim terakhirnya bersama Monaco setelah hanya mencetak 12 gol dari 48 pertandingan.

Man Utd (2015-16): 11 gol dari 31 laga Premier League (satu gol setiap 0,35 laga); 17 gol dari 52 laga di seluruh ajang (satu gol setiap 0,32 laga).

Martial sukses besar pada musim pertamanya di Old Trafford. Setelah menandai penampilan debutnya dengan menjebol gawang Liverpool, saat jadi pemain pengganti, penyerang 21 tahun itu menuntaskan musim 2015-16 sebagai topskorer MU.

4. Djibril Cisse
Penampilan impresif Cisse bersama Auxerre pada musim 2003-04, ketika mencetak 26 gol dari 38 laga Ligue 1, bukan cuma membuatnya jadi topskorer kompetisi melainkan juga membuat Liverpool memboyongnya.

Liverpool (2004-05): 4 gol dari 16 laga Premier League (satu gol setiap 0,25 laga); 5 gol dari 25 laga di seluruh ajang (satu gol setiap 0,2 laga).

Akan tetapi, pria Prancis yang kini berusia 35 tahun tersebut menjalani 12 bulan pertama yang sulit di Anfield. Ia mengalami nasib nahas usai patah kaki pada Oktober 2004 dan absen enam bulan. Cisse akhirnya menyudahi musim pertama dengan hanya lima gol.

5. Didier Drogba
Drogba cuma semusim di Marseille, tapi ia berhasil melewatinya dengan gemilang. Tengok catatan 31 gol dari 53 pertandingannya di seluruh kompetisi musim 2003-04.

Chelsea (2004-05): 10 gol dari 26 laga Premier League (satu gol setiap 0,38 laga); 16 gol dari 41 laga di seluruh ajang (satu gol setiap 0,39 laga).

Musim pertamanya bersama Chelsea pada 2004-05 memang tidak sesubur itu, tapi harus diingat kalau pria asal Pantai Gading tersebut sempat absen lebih dari dua bulan akibat cedera perut. Ia menyudahi musim pertama di Inggris dengan 31 gol, membantu Chelsea menjuarai Premier League, dan akan dikenang sebagai salah satu penyerang terhebat ‘Si Biru’.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply