Kecocokan Marcelo dengan Strategi Zinedine Zidane

Kecocokan Marcelo dengan Strategi Zinedine Zidane

Sejak memperkuat Madrid pada musim 2006/2007 sampai sekarang, Marcelo sudah merasakan polesan tangan dari delapan pelatih berbeda. Mulai dari Fabio Capello, sampai Zinedine Zidane saat ini. Juga ketika dilatih Carlo Ancelotti pada 2013-2015.

Kecepatan Marcelo menjadi andalan Madrid ketika melakukan serangan balik cepat, khususnya saat ditukangi Ancelotti. Ia rajin membantu lini serang dan membuat sayap kiri lebih leluasa untuk membuka ruang. Pergerakan itu berawal dari pola serangan Madrid yang bermula dari tengah dan kemudian dialirkan ke sisi lapangan.

Di sanalah selalu ada pemain sayap yang berlari. Tapi jika ruangannya terlalu sempit, bola akan diberikan kepada bek sayapnya dan itulah yang dilakukan Marcelo di sisi kiri sehingga menjadi tumpuan serangan Madrid dari sisi lapangan. Madrid seolah selalu punya pemain tambahan di sisi kiri saat menyerang.

Kemudian Marcelo juga sering melakukan tusukan-tusukan ke tengah yang tidak diduga oleh lawannya, sehingga jarang ada halangan bagi gerakannya tersebut. Peran Marcelo dalam mengubah jalannya pertandingan cukup besar. Contohnya saja ketika final Liga Champions 2013/2014 menghadapi Atletico Madrid di Stadion Da Luz Lisbon, Portugal, pada 24 Mei 2014 lalu.

Coba kita lihat dengan membandingkan performa Angel Di Maria sebelum dan sesudah Marcelo masuk. Hingga menit ke-60, Angel Di Maria hanya melakukan tujuh kali umpan silang, saat itu bek kiri diisi oleh Fabio Coentrao. Ketika Marcelo masuk, ia berhasil melakukan 12 kali umpan silang dan satu percobaan tembakan yang berujung dengan gol yang dicetak Gareth Bale. Marcelo juga menyumbang gol ketiga. Gol Marcelo lahir ketika ia menggiring bola sendirian ke jantung pertahanan Atletico. Melihat ada celah, tanpa pikir panjang ia langsung menendang bola tersebut. Marcelo turut memberi ruang bagi Di Maria untuk bergerak.

Di babak pertama Fabio Coentrao, yang dimainkan posisi bek kiri sejak pertandingan dimulai, tidak rajin naik membantu serangan. Ini mengakibatkan Di Maria menjadi pusat perhatian pada bek Atletico. Sementara ketika Marcelo main, ia sering naik ke depan. Hasilnya, perhatian bek Atletico pun terpecah.

Begitu juga saat gol ketiga Real Madrid terjadi. Dua bek tengah Atletico terlanjur mengikuti laju dua pemain depan Madrid. Demikian halnya dengan Juanfran, bek kanan Atletico, yang terfokus pada Ronaldo. Hal tersebut kemudian memudahkan Marcelo untuk merangsak ke sepertiga lapangan akhir lawan dan melepaskan tembakan.

Tapi Marcelo sempat mengalami penurunan ketika Madrid dilatih Rafael Benitez pada musim 2015/2016. Di bawah arahan Benitez, bek tengah dan gelandang bertahan tak bisa menutupi celah yang ditinggalkan Marcelo saat membantu serangan.

Benitez seperti memberikan tugas ekstra kepada Marcelo untuk bertahan maupun menyerang, tanpa adanya bantuan penutupan ruang dari bek tengah maupun gelandang bertahan. Apalagi para sayap Madrid seperti Cristiano Ronaldo seperti enggan turun bertahan dan ingin terus mencetak gol.

Di sisi lain, Marcelo juga tidak bisa naik turun terus-terusan tanpa ada yang melindungi area bertahannya. Alhasil, sering tercipta ruang kosong di sisi kiri pertahanan Madrid dan menjadi sasaran empuk lawan-lawannya.

Namun tidak dimungkiri juga ada pembangkangan-pembangkangan kepada intruksi pemain kepada Benitez pada waktu itu. Memang situasi ruang ganti Madrid di era Benitez cukup panas, termasuk Ronaldo yang dikabarkan keberatan harus turun ke belakang membantu pertahanan. Berbeda dengan kepelatihan Zidane yang dinilai bisa lebih kondusif dan menjaga mental para pemain-pemainnya.

“Kami tahu apa yang kami inginkan dan apa yang pelatih harapkan dari kami: untuk bermain di pertahanan lawan, mendapatkan bola secara cepat dan menyerang. Hasil pertandingan hari ini adalah kemenangan gemilang kami yang lain. Kami telah bekerja keras untuk bisa seperti ini. Sporting adalah lawan yang tangguh,” kata Marcelo usai laga melawan Sporting Gijon pada April lalu.

Di bawah arahan Zidane, para pemain tampak mengikuti intruksi-intruksinya. Marcelo pun menjadi elemen penting dari strategi Zidane yang memainkan penguasaan bola bertempo cepat. Apalagi kecenderungan serangan Madrid di era Zidane banyak diarahkan ke sisi kiri, tempat yang dilakoni Marcelo dan Ronaldo. Marcelo dengan Ronaldo saling membantu mengeksploitasi sisi pertahanan lawan.

Di sana tercipta kombinasi antara Marcelo dan Ronaldo. Marcelo menjadi sokongan yang baik bagi Ronaldo dengan minimal memberikan 26 operan tepat sasaran kepadanya. Zidane, yang tetap menggunakan sistem serangan balik seperti Ancelotti, menjadikan Marcelo sebagai kontribusi serangan yang penting.

Di bawah arahan Zidane, Marcelo juga tidak keberatan ketika dibatasi agresivitas serangannya kala harus bermain bertahan. Tapi ketika bertahan itulah Marcelo diberi kebebasan untuk mengawali serangan.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply