Skema Pressing Riedl akan menjadi Bumerang

Skema Pressing Riedl akan menjadi Bumerang

Dalam menghadapi Piala AFF 2016, Riedl memiliki empat kesempatan untuk menjajal skema permainan yang ia siapkan dalam uji tanding. Dari empat laga tersebut, Indonesia menorehkan satu kemenangan, dua kali imbang, dan satu kekalahan.

Dari empat laga uji tanding pun tampaknya sudah cukup tergambarkan siapa-siapa saja yang akan menghuni susunan pemain utama Indonesia di Piala AFF 2016 nanti, setidaknya untuk menjalani laga pertama menghadapi Thailand.

Indonesia akan menggunakan formasi dasar 4-4-2, sebagaimana yang diperagakan dalam empat pertandingan uji tanding. Untuk sejumlah posisi, Riedl tampaknya telah menemukan pemain yang akan menjadi pemain utama.

Dari grafis di atas juga terlihat bagaimana Riedl cukup mengandalkan Irfan Bachdim untuk berduet dengan kapten tim, Boaz Solossa. Mantan penyerang Persema Malang tersebut absen pada laga menghadapi Myanmar pun lebih karena mendapatkan cedera, sehingga kemudian digantikan Lerby.

Namun sialnya, penyerang berusia 26 tahun tersebut tidak akan menghuni lini depan timnas Indonesia di Piala AFF 2016 nanti karena mendapatkan cedera yang mengharuskan dirinya dicoret.

Cederanya Irfan ini memang bisa dibilang menjadi bencana bagi Riedl. Pemain keturunan Belanda ini merupakan penyerang yang cocok berduet dengan Boaz serta mampu menjalankan instruksi Riedl dengan baik, khususnya saat melakukan pressing.

Dalam skema permainan Riedl sekarang ini, Indonesia akan lebih mengutamakan skema pressing yang dilakukan sejak di lini pertahanan lawan. Indonesia akan berusaha merusak skema penyerangan lawan ketika pemain bertahan lawan menguasai bola. Inilah yang terus dimantapkan Indonesia seminggu menjelang laga pertama menghadapi Thailand berlangsung.

Namun anehnya, skema ini tak terlihat pada empat pertandingan Indonesia dalam uji tanding. Para pemain Indonesia lebih sering bermain dengan garis pertahanan rendah ketika tak menguasai bola, atau setidaknya hanya melakukan pressing ketika bola serangan lawan memasuki area final third.

Jika skema pressing memang akan dipraktikkan, entah sepanjang gelaran Piala AFF 2016 atau pun hanya satu-dua pertandingan, Indonesia patut waspada akan kebugaran dan stamina pemain. Karena yang terlihat, pada babak kedua biasanya para pemain Indonesia mulai menurunkan intensitas serangan maupun pressing yang merupakan bagian dari tergerusnya stamina pemain. Laga melawan Vietnam di Hanoi menjadi bukti di mana Indonesia yang sempat unggul dua kali kecolongan dua gol di babak kedua.

Selain harus terbiasa dengan pressing, para pemain Indonesia juga harus beradaptasi dengan formasi dasar 4-4-2. Formasi ini cukup memakan waktu bagi para pemain Indonesia untuk bisa beradaptasi, karena mayoritas klub di Indonesia menggunakan tiga gelandang tengah dengan pemain sayap yang lebih menyerang dan membantu satu penyerang.

“Saya lebih enak main di 4-2-3-1. Kalau 4-4-2 (Riedl), wing lebih bekerja keras untuk bertahan,” tutur Zulham Zamrun ketika kami tanyai langsung.

Sementara itu dari empat pertandingan uji tanding, Indonesia justru terlihat begitu andal dalam serangan balik. Kecepatan Boaz Solossa dan Andik bisa dimanfaatkan dalam membangun serangan cepat. Pada laga melawan Malaysia dan dua kali menghadapi Vietnam, skema serangan balik berhasil membuahkan gol.

Hanya saja dengan absennya Irfan, segala kemungkinan bisa terjadi. Bukan tak mungkin Riedl tiba-tiba mengubah formasi dasar 4-4-2 andalannya menjadi 4-3-3 atau 4-2-3-1 ketika pertandingan berlangsung. Apalagi jika melihat skuat yang ada saat ini, ditambah penyerang seperti Lerby dan Ferdinan, yang terbiasa bermain sebagai satu penyerang tengah.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply