PT GTS: BOPI Salah Alamat Soal Izin Pemain Asing

PT GTS: BOPI Salah Alamat Soal Izin Pemain Asing

Gelaran Indonesia Soccer Championship (ISC) bukan tanpa persoalan. Belakangan, operator kompetisi di bawah PT Gelora Trisula Semesta (GTS) mendapat sorotan dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

Meski berganti kompetisi dan operator, permasalahan izin keimigrasian pemain asing yang disoroti BOPI, tetap saja masih terjadi. Pihak BOPI pun berencana mengonfirmasi masalah yang dikeluhkan Direktorat Jenderal Imigrasi ini kepada PT GTS selaku operator.

Direktur Kompetisi dan Regulasi ISC, Ratu Tisha, langsung merespons sikap BOPI itu. Menurutnya, tuduhan pelanggaran administratif tersebut bukan lagi berada di PT GTS, melainkan klub-klub peserta.

“Harus kami pelajari dulu karena semua ada regulasinya (di ISC). Sedangkan ini merupakan sudah masuk pada ranah klub,” ujar Tisha saat dihubungi CNNIndonesia.com.

“Jadi, saya pikir BOPI salah alamat jika mendesak PT GTS (atas pelanggaran administratif keimigrasian oleh klub-klub).”

Menurutnya, operator dan klub memiliki tanggung jawab yang terpisah. “Kami bukan seperti Event Organizer yang mengundang klub-klub, kemudian membuat semua aturan dan segala macamnya yang harus dipatuhi klub-klub,” tegas Tisha.

Menurutnya, pihaknya sebatas memfasilitasi klub-klub yang memang ingin membentuk kompetisi bersama saat PSSI dibekukan. “Jadi ini sifatnya urun rembuk antara semua klub dan kami memfasilitasinya,” tutur Tisha.

Ia pun menjelaskan, masalah-masalah administrasi seperti keimigrasian bisa langsung ditekankan ke klub-klub karena mereka yang bertanggung jawab. “Kami menyiapkan semua fasilitas, manual, dan regulasi. Penyelenggara di level klub lah yang mengimplementasikan regulasi itu,” tutur Tisha.

Tisha juga menyebutkan ada perbedaan secara substansi antara manual dan regulasi dalam ISC. “Kalau regulasi, kita juga bicara sanksi yang akan diberikan klub jika melanggar. Sedangkan Manual lebih kepada aspek kualitas kompetisi itu menyangkut soal teknis kelengkapan dan lain sebagainya,” terang Tisha.

Saat ditanya apakah masalah keimigrasian pemain masuk dalam regulasi atau manual, Tisha belum mau berkomentar. “Anda silakan pelajari dahulu regulasi dan manual di ISC,” ketusnya.

Setelah melihat manual liga dan regulasi, aturan mengenai keimigrasian tercantum jelas dalam regulasi ISC. Dalam pasal 32 ayat 1, tercantum persyaratan keimigrasian yang harus dipenuhi pemain asing di ISC 2016 seperti paspor, Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS), dan salinan kontrak kerja pemain asing dan perantara.

Dalam pasal dua pun dicantumkan bahwa hal-hal yang bersifat administratif yang terkait dengan dokumen pemain, merupakan tangggung jawab klub.

Dalam Pasal 33 tentang status pemain, tercantum pula: “GTS berhak melakukan verifikasi terhadap dokumen yang dipersyaratkan terhadap proses pendaftaran pemain. Ketidaklengkapan dokumen dari Pemain akan mengakibatkan Pemain yang bersangkutan tidak akan disahkan oleh GTS.”

Artinya, PT GTS seharusnya menjadi pintu terakhir terkait persyaratan administratif macam keimigrasian pemain asing jika melihat pasal-pasal tersebut.

Anehnya, BOPI menyebut masih ada saja pelanggaran keimigrasian yang seharusnya bisa disaring lebih dahulu oleh PT GTS selaku operator ISC.

15 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply