Menakar Kapabilitas Eropa Timur di Euro 2016

Menakar Kapabilitas Eropa Timur di Euro 2016

Menyebut kata “Eropa Timur” sebenarnya cukup terdengar kurang nyaman dan tidak cukup etis, karena frasa tersebut jamak digunakan negara Blok Barat (yang konon dikenal sebagai kelompok negara liberal) untuk menjustifikasi bahwa konon, Eropa bagian timur adalah cerminan kumpulan negara Eropa yang terbelakang, tidak maju dan tentu saja, komunis.

Ketika sejarah lebih berpihak pada kemenangan Barat, yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin dan pecahnya Uni Soviet, Eropa Timur dianggap sebagai pihak yang kalah dan mengalami stagnansi perkembangan sosial-ekonomi yang tidak progresif dan kompeten seperti laiknya dialami negara-negara mapan semisal Prancis, Inggris dan Jerman.

Masalah semakin pelik karena masyarakat Eropa Timur, atau beberapa negara bekas pecahan Soviet, malas mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari masyarakat Eropa sebelah timur. Mereka lebih nyaman mengasosiasikan diri sebagai bagian dari negara Eropa Tengah bersama negara-negara kecil seperti Austria, dan tak jarang beberapa di antaranya mengasimilasikan diri sebagai bagian dari masyarakat Jerman yang makmur, maju dan sejahtera. Sedikit dari mereka juga ada yang menggolongkan diri sebagai bagian dari negara-negara Skandinavia di Utara.

Hal ini yang memiliki efek masif bahwa di banyak aspek, selain Rusia, beberapa negara Eropa Timur sangat rentan dengan isu perpecahan, konflik bersenjata, perang saudara hingga klaim sebagai sisa-sisa dari reruntuhan negara komunis. Tak ayal pula, klaim sebagai negara komunis acapkali melekat di beberapa negara pecahan tersebut. Anda tentu paham efek dari stigma sebagai negara komunis, bukan?

Dengan latar belakang demikian, ketika memasuki ranah perbincangan mengenai sepakbola, muncul pertanyaan menggelitik, sejauh mana sebenarnya kapabilitas Eropa Timur di Benua Biru?

Eropa Timur di Euro 2016

Timur bukan tidak pernah menjuarai turnamen sepakbola akbar di Benua Biru ini. Tercatat, dua negara Eropa Timur menjuarai trofi Henri Delaunay yakni, Uni Soviet di tahun 1960 dan Cekoslovakia di pagelaran 1976, yang turut diwarnai eksekusi penalti legendaris ala Antonin Panenka.

Yang menjadi soal kemudian, turnamen yang diikuti Soviet dan Ceko saat itu bukanlah format turnamen yang ideal dan bisa dikatakan jauh dari kata kompetitif. Putaran final saat itu hanya diikuti empat tim. Dan bukan hal berarti bagi tim seperti Soviet untuk menjuarai turnamen di tahun 1960 saat itu. Ketegangan politik antara Blok Barat dan Blok Timur membuat beberapa negara secara frontal menolak untuk melawan Soviet di pertandingan sepakbola resmi.

Kemenangan Cekoslovakia di tahun 1976 pun sebenarnya tidak bisa disebut istimewa, walau mereka sukses menundukkan juara bertahan Jerman Barat saat itu. Kemenangan lewat adu penalti dengan turnamen yang diikuti empat tim di putaran final jelas bukan catatan impresif yang bisa dijadikan tolok ukur yang baik untuk menakar kemampuan istimewa sebuah standar sepak bola suatu negara saat itu.

Bukti nyata dari merosotnya kualitas daya saing negara Eropa Timur tergambar jelas kemudian usai format diubah untuk semakin kompetitif dengan penambahan format tim peserta putaran final menjadi delapan tim per tahun 1980-1992. Dan bertambah lagi menjadi format 16 tim untuk Piala Eropa edisi 1996 di Inggris sampai 2012 di Polandia-Ukraina.

Sejak terakhir dijuarai Cekoslovakia di tahun 1976, nyatanya, tidak ada satupun negara Eropa Timur yang mampu menantang hegemoni negara-negara seperti Spanyol, Prancis, Italia, Jerman hingga kejutan Tim Dinamit, Denmark, di Piala Eropa 1992.

Format 24 tim yang pertama kali diperkenalkan untuk Euro 2016 ini adalah sesuatu yang menantang sekaligus waktu yang tepat untuk menakar kapabilitas perkembangan sepakbola di negara-negara Eropa Timur.

Hampir sepertiga dari daftar peserta Euro tahun ini (9 negara dari 24 kontestan) adalah negara Eropa Timur atau bagian dari negara di Semenanjung Balkan. Beberapa di antaranya adalah negara debutan seperti Albania. Juga bekas negara yang di masa dahulu, memiliki timnas sepak bola yang cukup kuat seperti Hongaria, Rusia dan Rumania.

Keunggulan sepakbola Eropa Timur adalah warna mereka yang misterius dan sulit diraba. Rusia pernah melakukannya di 2008 dengan penampilan gemilang Andrei Arshavin dan Roman Pavlyuchenko saat itu. Dan hal itu, bukan berarti akan kembali terulang sekaligus menjawab keraguan publik tentang kapabilitas Eropa Timur di kancah sepakbola Eropa.

Selain Rusia, yang ditangani pelatih legendaris, Leonid Slutsky, ada Kroasia, bekas kuda hitam di Piala Dunia 1998 yang datang dengan deretan gelandang berkualitas dalam nama Luka Modric, Ivan Rakitic hingga gelandang muda Real Madrid, Mateo Kovacic. Kuda hitam yang berpotensi menyimpan ledakan dahsyat lainnya adalah Slovakia. Negara pecahan dari Cekoslovakia ini memiliki potensi tersembunyi yang siap memberi kejutan. Marek Hamsik dkk. pernah mempermalukan Jerman dan juara bertahan Spanyol.

Di luar tiga negara tersebut, masih ada Ukraina yang diperkuat Andrei Yarmolenko hingga Yevhen Konoplyanka yang juga pastinya bersiap menjadi kuda hitam yang bisa mengganjal ambisi poros negara-negara Eropa Barat di pentas Euro 2016. Juga jangan lupakan potensi kejutan yang disimpan skuat Polandia yang berisi dua penyerang subur Eropa musim ini, Robert Lewandowski dari Bayern Munich dan Arkadiusz Milik, penyerang muda berbakat milik Ajax Amsterdam.

Di luar lima negara tersebut, terselip empat negara minor atas nama Albania, Hongaria, Rumania dan Republik Ceko yang walau terlihat inferior, sebenarnya masih bisa diharapkan memberi kejutan.

Secara hematnya, karena liga domestik di negara-negara Eropa Timur minim spotlight dari media dan sulit diikuti perkembangannya secara kontinyu, hal tersebut membuat beberapa negara mapan Eropa akan cukup kesulitan menentukan gaya main mereka. Apalagi, putaran final berisi banyak negara yang membuat Euro tahun ini akan semakin kompetitif dan tentu saja, cukup sulit dimenangkan.

Laiknya negara Blok Timur yang kerapkali dicap sebagai komunis, sepakbola dan wajah permainan negara-negara Eropa Timur di lapangan akan sangat sulit diraba dan diprediksi.

Anda tahu sendiri, komunis lekat dengan stigma misterius dan tertutup, dan biasanya, sesuatu yang misterius dan tertutup selalu menyimpan kejutan. Orang kerapkali takut akan apa yang tidak mereka tahu, dan berangkat dari ketakutan itu, harapan akan kejayaan kembali sepakbola Eropa Timur di Eropa, bisa sekali lagi digaungkan.

5 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply