Lima Faktor Penentu Liverpool Gebuk Villarreal

Lima Faktor Penentu Liverpool Gebuk Villarreal

Daniel Sturridge menjadi pahlawan Liverpool dengan golnya dalam kurun 25 menit sebelum laga berakhir. Dua gol sebenarnya sudah cukup bagi The Reds untuk menyingkirkan Villarreal dan lolos ke final Liga Europa dengan agregat 2-1.

Namun, Adam Lallana mempertegas kemenangan Liverpool dalam leg kedua semifinal, Jumat dini hari 6 Mei 2016 di Anfield, dengan memberikan gol ketiga. Liverpool pun memastikan tempat di St Jakob Park, Basel, Swiss, pada 18 Mei mendatang.

Sturridge, yang diberikan kepercayaan oleh Juergen Klopp untuk memimpin lini serang dari menit pertama, mulai memberi hadiah bagi sang manajer di menit ketujuh. Dia memaksa Bruno untuk melakukan gol bunuh diri, yang membuat Liverpool menyamakan agregat jadi 1-1.

Dilansir dari Mirror, berikut adalah lima hal dari duel Liverpool vs Villarreal:

1. Kopites di Anfield adalah pemain ekstra.

Pada konferensi pers sebelum pertandingan, Klopp mengatakan berharap pada atmosfer Anfield. “Jika kami bisa menciptakan atmosfer yang sama, seperti saat melawan Borussia Dortmund, maka bakal jadi lebih sulit bagi Villarreal dari yang mereka bayangkan saat ini,” katanya.

Harapan Klopp pada atmosfer Anfield, tampak mendapat jawaban dari suporter. Tulisan “The Greatest Family” terlihat di tribun penonton, sebelum laga melawan Villarreal dimulai, memberikan situasi yang emosional bagi para pemain The Red.

Pelatih Villarreal, Marcelino, mengatakan timnya tidak bakal terpengaruh, dengan gemuruh Kopites di Anfield. Namun, bagaimana Liverpool bisa mendominasi pertandingan di leg kedua, memperlihatkan fakta sebaliknya.

2. Jurgen Klopp bisa jadi pemain ekstra juga.

Mantan bos Borussia Dortmund, yang ditunjuk menangani Liverpool sejak Oktober 2015, itu dikenal memiliki karakter yang unik. Kerap dianggap seperti karakter kartun di tepi lapangan, dengan berbagai tingkahnya sebagai reaksi atas apa yang terjadi dalam pertandingan.

Insiden menarik terjadi pada babak pertama melawan Villarreal. Marcelino terlihat sempat beradu argumen dengan Klopp di tepi lapangan, karena kesal melihat tingkah lakunya. Satu hal yang terlihat dalam peristiwa, itu adalah Klopp sukses mengganggu konsentrasi lawan.

Klopp memang emosional, namun tingkah lakunya tidak pernah dimaksudkan sebagai provokasi bagi lawan. Di sisi lain, dia adalah seorang motivator dan pengatur strategi yang hebat. Liverpool masih dengan skuat yang sama seperti awal musim. Perbedaannya terletak pada perubahan mental.

Di awal musim, pemain-pemain Liverpool seperti tidak punya motivasi dan gairah, untuk selalu berjuang meraih kemenangan. Duel melawan Manchester United dan Dortmund di Liga Europa, memperlihatkan bagaimana skuat Klopp kini terlihat memiliki karakter yang kuat.

3. Dejan Lovren bisa menjadi Mats Hummels Klopp di Anfield.

Selama masih ditangani Brendan Rodgers, Lovren tampil jauh dari bandrol harganya yang puluhan juta poundsterling. Namun, dia terlihat seperti lahir kembali, dalam beberapa bulan di bawah Klopp. Dia memperlihatkan kepemimpinan dan ketenangan di lapangan.

Klopp memiliki Mats Hummels, sebagai palang yang kuat di lini belakang Dortmund. Secara fisik dan tehnik, Lovren mulai memperlihatkan, bagaimana Klopp bisa mendapatkan figur yang sama pada diri Lovren di Liverpool.

4. Daniel Sturridge masih memiliki masa depan di Anfield.

Banyak spekulasi dihembuskan media Inggris, bahwa Sturridge sudah pasti hengkang musim panas nanti. Melawan Villarreal, Sturridge membuktikan bahwa dia masih memiliki hasrat, dan rasa lapar untuk sukses bersama Liverpool.

5. Villarreal adalah musuh yang berkualitas.

Villarreal adalah penghuni posisi empat klasemen sementara La Liga musim ini. Mereka tetap memperlihatkan semangat bermain, hingga detik akhir laga di Anfield, walau sudah tertinggal tiga gol. Itu adalah karakter, yang bisa membuat mereka menjadi musuh yang berbahaya.

34 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply